Riya (Pamer) adalah Perbuatan “Syirik Kecil”

Posted: Juni 6, 2011 in Islam itu INDAH

Riya adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya.

Ciri-ciri riya:

  • Jika disanjung bersemangat dalam beramal, sedangkan jika dicela hilang amalnya.
    Suatu ketika ada orang yang membicarakan tentang kita, bahwa kita adalah orang yang taat ibadah, rajin ngaji, rajin bershodaqoh, seorang ustadz, pengusaha sukses dan sebagainya, ternyata pembiacaraan itu menambah semangat kita untuk semakin banyak beramal, berhati-hatilah saudaraku, bisa jadi semua amalan yang kita kerjakan bukan dilandasi keimanan kepada Allah tapi masih berorientasi manusia.
  • Ditengah orang, giat beramal sedangkan ketika sendirian malas beramal.
    Ketika kita berkumpul dengan banyak orang, ada dorongan yang kuat pada diri kita untuk semakin banyak beramal, sholat sunnah yang tidak pernah kita kerjakan saat itu kita kerjakan. Baca qur’an yang biasanya hanya setengah halaman, saat itu menjadi satu juz lebih. Dzikir yang biasanya kita tinggalkan, saat itu khusyuk kita dalam anggukan kepala sembari mulut bergerak-gerak membaca lafadz tasbih, tahmid dan takbir. Berhati-hatilah saudaraku, bisa jadi semua amalan yang kita kerjakan bukan dilandasi keimanan kepada Allah tapi masih berorientasi manusia.
  • Menjauhi larangan Allah jika ramai dan melanggar larangan jika sendiri/sepi.
    Makan dan minum yang biasanya kita kerjakan tanpa melihat tangan kanan atau tangan kiri atau bahkan dengan kaki menjadi mendadak sontak berubah ketika kita berkumpul dengan orang banyak. Kita berusaha mati-matian untuk mencari tempat duduk ketika makan karena takut kredibilitas kita sebagai ustadz akan jatuh karena makan sambil berdiri. Ucapan-ucapan kita yang biasanya ketika dirumah kotor tidak beretika menjadi halus dan santun ketika berbicara dihadapan orang banyak. Berhati-hatilah saudaraku, bisa jadi semua amalan yang kita kerjakan bukan dilandasi keimanan kepada Allah tapi masih berorientasi manusia.

Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ   

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . [QS. Al-Baqarah: 264]

  فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, [Al-Maa’un : 4]

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, [Al-Maa’un : 5]

الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ

orang-orang yang berbuat riya, [Al-Maa’un : 6]

  • Riya membuat amal sia-sia sebagaimana syirik. (HR. Ar-Rabii’)
  • Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Allah mengancam orang yang riya ke dalam neraka dan menyebutnya sebagai teman setan:

وَالَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَـاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِيناً فَسَاء قِرِيناً

Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. [An-Nisa : 38]

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali . [An-Nisa : 142]

Imam Al Ghazali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun ketika ada budak sang raja hadir, baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut. Bukankah orang itu akan mendapat marah dari rajanya?

Nah orang yang riya juga begitu. Ketika hanya berdua dengan Allah Sang Raja Segala Raja, dia malas dan enggan beribadah. Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba/budak Allah, maka dia jadi rajin shalat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Adakah hal itu tidak menggelikan?

Agar terhindar dari riya, kita harus meniatkan segala amal kita untuk Allah ta’ala (Lillahi ta’ala).

Selain riya yang beribadah kepada Allah hanya pamer kepada manusia, sikap riya/menjilat pada atasan pun tidak terpuji. Orang-orang seperti ini biasanya ke atas menjilat, namun ke bawah menginjak. Orang-orang seperti ini selain dibenci bawahannya juga dibenci Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s